Judul               : Kiai Hologram

Penulis             : Emha Ainun Nadjib

Penerbit           : Bentang Pustaka, Yogyakarta

Cetakan           : Kedua, Mei 2018

Tebal               : viii+ 288 Halaman

ISBN               : 9786022914686

 

Belakangan ini, bangsa Indonesia diuji Tuhan dengan berbagai cobaan dan musibah. Dari gempa Lombok, gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, banjir bandang, hingga jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 penerbangan Jakarta-Pangkalpinang beberapa waktu lalu. Hal ini mengingatkan manusia bahwa musibah bisa terjadi di mana saja. Darat, laut, bahkan udara. Musibah dan ujian adalah sebuah keniscayaan yang diberikan Tuhan kepada makhluk-Nya agar manusia bersabar menghadapi ujian hidup.

Emha Ainun Nadjib lewat buku Kiai Hologram kembali menghadirkan tulisan bernas yang sarat dengan renungan, terutama dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hidup yang senantiasa penuh dengan ujian dan cobaan silih berganti. Lewat buku ini, Cak Nun ingin mengajak pembaca merenungi pelbagai hal yang kita alami.

Cak Nun menjelaskan, dalam hidup ini, hampir setiap hari ada orang yang butuh dinasihati, dikasih pengajian, atau minta pencerahan. Hal itu wajar karena manusia memang makhluk yang lemah. Makhluk yang senantiasa butuh suntikan motivasi. Dari masalah hidup sehari-hari, hingga masalah penciptaan segala makhluk di muka bumi. Bahkan, kata Cak Nun, suatu ketika ada orang yang bertanya, “Tuhan itu ada beneran, po?”. Ketika mendapat pertanyaan seperti itu, sebagai orang yang sudah tua, beliau memilih jawaban begini, “Mending kamu pilih percaya ada Tuhan saja. Kalau ternyata nggak ada, kau tak mendapat masalah apa-apa. Tapi, kalau ternyata ada, kamu sudah lebih siap.”

Pertanyaan yang begitu berat dan sangat filosofis ini sebenarnya adalah hal yang patut direnungkan. Satu hal yang perlu diketahui adalah, pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuai Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan. Tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya. Tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi. Tidak sesuai yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata yakni Lauhul Mahfudz.” (hlm. 138).

Tak hanya menyoal tentang ritual atau aktivitas keagamaan, dalam buku ini Cak Nun juga mengupas tentang kehidupan sosial-masyarakat serta persinggungannya dalam kehidupan sehari-hari yang begitu kompleks. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak akan pernah lepas dari konflik. Gesekan masalah senantiasa ada dan kadang menimbulkan masalah krusial jika tidak diatasi dengan baik.

Begitu banyak konflik di masyarakat yang berakhir dengan pertumpahan darah. Konflik yang dipicu oleh banyak sebab itu tak sedikit yang menimbulkan perpecahan antar sesama Muslim. Mereka saling menyalahkan, mengafirkan, tanpa mau berusaha menyelesaikan konflik yang sebenarnya bisa diredakan. Suatu hal yang memang butuh perhatian khusus dari banyak pihak agar persaudaran antar masyarakat, baik itu yang seagama maupun beda keyakinan. Karena hidup bermasyarakat harus saling menghormati, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

Dalam buku 288 halaman ini, Cak Nun cukup banyak menyinggung masalah agama, sosial, dan kebangsaan. Bahwa kehidupan beragama dan berbangsa adalah dua kehidupan yang saling bersinggungan. Dalam hidup bermasyarakat, manusia harus bisa memperhatikan nilai-nilai agama dan betapa pentingnya hidup rukun yang senantiasa hidup dengan saling silaturahim agar antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya bisa saling mengenal, saling membantu, dan saling bahu membahu ketika ada sekelompok masyarakat yang butuh pertolongan.

Ada banyak nilai keagamaan dan kebangsaan yang bisa kita pelajari dari karya Cak Nun, terutama di zaman milenial yang sarat dengan konflik ini. Saat ini, untuk menimbulkan sebuah kericuhan atau kekacauan sudah begitu mudah, terutama dengan adanya teknologi informasi. Cukup sekali sebar di media sosial, maka jutaan manusia akan merespons dan menghadirkan banyak opini, baik pro maupun kontra. Karena itu, penting sekali untuk bersikap bijak dalam menggunakan teknologi. Karena, kata Cak Nun, di zaman digital seperti sekarang ini, manusia begitu mudah mengagumi sekaligus mudah menjatuhkan. Cepat mencintai dan dengan segera membenci. Viral secara instan, lalu menghilang dengan tiba-tiba. (*)

 

*) Untung Wahyudi, lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya

 

Sumber gambar: https://favim.com/image/1665370/

Pustaka
Cak Nun

Keep in Touch

© Bentang Pustaka 2018

Home   Artikel   Buku