Indonesia tidak hanya kaya akan sumber daya alam dan manusianya, juga karena sejarahnya. Sejak zaman Majapahit, Sriwijaya, kedatangan bangsa-bangsa Eropa, masa-masa kolonial Hindia Belanda, revolusi kemerdekaan, gelapnya 1965, reformasi, hingga sekarang, Indonesia tidak pernah habis cerita untuk diceritakan kepada para penerusnya.

Sumber daya alam pun demikian, Indonesia diberikan sumber daya alam yang begitu melimpah dan seakan-akan tidak pernah habis. Dari ujung Sabang hingga mentok di Merauke segalanya terkandung di bumi dan laut, di hutan-hutan dan kebun-kebun. Bahkan, sering kita dengar: tongkat kayu dan batu jadi tanaman, menggambarkan begitu suburnya Tanah Air.

Dengan segala melimpahnya kenikmatan yang diberikan, Indonesia mempunyai rakyat yang begitu mencintainya, apa adanya. Kesejahteraan dan kegembiraan membuat mereka semakin mencintai Tanah Air, tetapi kesengsaraan dan penderitaan pun tidak mengurangi kecintaan mereka pada Tanah Air.

Semua bentuk kecintaan itu dibungkus dalam sebuah kalimat yang bermakna absolut: NKRI Harga Mati. Slogan itu menjadi sebuah perisai sekaligus tameng bagi rakyat yang sedia mati untuk Tanah Air yang dicintainya. NKRI Harga Mati juga menjadi simbol hubungan rakyat dengan Tanah Air yang seperti suami-istri. Ketika ada uang lebih dan kebahagiaan menghampiri, hubungan semakin erat. Dan, ketika ada musibah dan ketidakberuntungan menghampiri, hubungan pun semakin erat. Cobaan dan ujian dari Tuhan sangat efektif untuk membuat manusia lebih dekat dengan Tuhannya.

Akan tetapi, sebagaimana banyak hal di dunia ini, pasti ada plus dan minusnya. Ada utara ada selatan, ada hitam juga ada putih. Begitu pula dengan NKRI Harga Mati yang menjadi jargon cintanya rakyat pada Tanah Air. Jika bertanya soal jargon “NKRI Harga Mati”, apa makna dibalik NKRI Harga Mati itu sendiri? Apakah sekadar cinta buta? Atau, bagaimana?

NKRI Harga Mati tampaknya tidak berlaku di tempat-tempat penindasan berlangsung. Tidak, mereka tidak meneriakkan NKRI Harga Mati dengan lantang dengan maksud menjaga keadilan, tetapi justru meneriakkan NKRI Harga Mati sebagai tanda halalnya penindasan atas nama kepentingan negara, padahal yang didahulukan adalah kepentingan perusahaan atau korporat.

Cak Nun menulis dalam “Harga Mati NKRI” dalam bukunya yang berjudul Pemimpin yang “Tuhan”.

Misalnya, kalau yang kita tempuh adalah mesin liberalisme, bahkan move-on jadi ultraliberalisme, atau lebih advanced daripada itu, maniak-liberalisme, NKRI jangan sampai harga mati, NKRI harus berperilaku luwes dan dinamis.

Padahal, Harga Mati NKRI adalah harga yang sungguh tidak  bisa ditawar lagi. Seharusnya pula NKRI Harga Mati menjadi tameng bukan hanya kepada musuh negara yang ingin menjajah negara dalam bentuk kolonialisme—seperti apa yang terjadi pada revolusi kemerdekaan—melainkan juga sebagai tameng dan pelindung terhadap ketidakadilan yang dibuat-buat. NKRI Harga Mati adalah NKRI yang tidak bisa ditawar berapa pun harganya, apa pun penggantinya. Absolut. Rakyat mantap menyuarakannya dengan lantang.

Dengan jargon itu pula rakyat menunggu kepastian, NKRI Harga Mati ini NKRI yang mana? Kapan? Apakah pada saat revolusi  kemerdekaan? Apakah pada saat pemberangusan PKI dan antek-anteknya? Apakah pada saat gejolak reformasi? Atau, pada tiap saat musim kampanye dimulai sehingga NKRI Harga Mati yang absolut itu bisa ditawar harganya dengan janji-janji politik semu yang semua orang tahu akan diingkari?

Padahal pada pelaksanaannya, NKRI Harga Mati hanyalah barisan huruf-huruf biasa dan banyak orang yang menyalahgunakannya demi subjektivitasnya masing-masing. Jadi, NKRI Harga Mati itu hanyalah N K R I dan h a r g a m a t i. Tidak lain tidak bukan hanyalah barisan kata dan kalimat yang kita tidak tahu apa maknanya dan apa implementasinya. Seperti halnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, yang hanya menjadi barisan kata-kata. Namun tidak masalah, NKRI Harga Mati adalah urusan jiwa. Segala keruwetan, akal, rasio, dan lain sebagainya biarlah diurus nanti. Yang penting semua rakyat Indonesia satu jiwa terlebih dahulu.

Dapatkan buku terbaru Cak Nun, Pemimpin yang “Tuhan” hanya di sini.

 

Sumber gambar: https://www.flagsonline.it.

Pustaka
Cak Nun

Keep in Touch

© Bentang Pustaka 2018

Home   Artikel   Buku