Hizbut Tahrir Indonesia pada akhirnya dibubarkan oleh pemerintah yang mengeluarkan sebuah peraturan yang membuat HTI harus terdepak dan tidak bisa lagi berorganisasi sebagaimana organisasi masyarakat (ormas) lainnya lakukan. HTI dituding ingin menggulingkan falsafah negara, Pancasila, dan menggantinya dengan sebuah pemahaman atau konsep yang dicap radikal dan ekstrem, khilafah.

Tidak hanya Indonesia, dunia pun takut dengan khilafah. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa begitu banyak pihak yang takut kepada khilafah sampai-sampai harus membubarkan HTI di tengah iklim demokrasi Indonesia yang sedang berkembang pesat? Apakah pembubaran HTI dan pelarangan pemahaman khilafah adalah sebuah kemunduran bagi iklim demokrasi—yang diharamkan oleh HTI—?

Konon sejak 2—3 abad yang lalu, para pemimpin dunia sepakat untuk memerangi khilafah dan terus memastikan bahwa jangan pernah ada Muslim yang dibiarkan bersatu dalam payung khilafah. Pekerjaan utama sejarah dunia adalah memecah belah kaum Muslim dengan segala cara. Kemudian membuat variabel-variabel seperti uang, pendidikan, dan media agar Muslim tidak percaya kepada khilafah dan membencinya.

Menurut Cak Nun dalam tulisannya yang berjudul “The Scary Khilafah”, khilafah merupakan desain Tuhan agar manusia mencapai titik “keadilan sosial”, “gemah ripah loh jinawi”, atau yang paling dimengerti “baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur”. Lalu, mengapa khilafah ditakutkan? Bukankah memang manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi?

Maka menurut Cak Nun, khilafah tidak perlu dipertentangkan lagi. Pertentangan soal iya atau tidaknya khilafah hanya menambah sederet pertikaian dan perbedaan pendapat yang umum terjadi di Tanah Air. Kita telah berdebat panjang soal hukum kenduri dan ziarah kubur, celana cingkrang, haramnya mendengarkan musik, boleh tidaknya masjid menjadi panggung kampanye para calon pemimpin, beda tanggal lebaran, hingga boleh tidaknya selawatan dan tahlilan. Lalu, kita menyempilkan persoalan khilafah di tengah banyak persoalan umat tadi.

Konsep khalifah dengan pelaku khilafah sendiri merupakan bagian dari desain Tuhan atas kehidupan di alam semesta. Khilafah merupakan skenario, visi, misi, program kerja, atau Garis Besar Haluan Kerja dari Tuhan yang tidak bisa kita semena-mena lancarkan protes atasnya. Analoginya, Tuhan adalah the big boss, sedangkan kita hanya karyawan rendahan yang memang harus idem dengan bos.

Cak Nun menganalogikannya seperti ini: para wali membumikannya dan mendendangkannya di alam semesta atau al ‘alamin yang dirahmatkan kepada manusia adalah “tandure wis sumilir, tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar”. Tugas khalifah adalah “penekno blimbing kuwi”. Etos kerja, amal saleh, daya juang selalu upayakan untuk tidak mencekung ke bawah “lunyu-lunyu yo penekno”. Selicin apa pun jalanan pada zaman ini, terus panjatlah, terus memanjatlah untuk memetik “blimbing” yang bergigir lima.

Akan tetapi dibalik itu semua, Cak Nun mengakui jika HTI sendiri kurang berhati-hati dalam mensyiarkan khilafah yang mereka gaungkan. Dan, Indonesia hingga dunia hanya tahu bahwa khilafah adalah HTI, bukan Muhammadiyah atau NU, atau lainnya. Padahal, HTI bukan pemilik tetap narasi khilafah, bukan yang paling khilafah, dan bukan satu-satunya kelompok atau individu yang ditugaskan Tuhan menjadi khalifah di muka bumi.

Jadi, apa yang perlu ditakutkan dari narasi khilafah? Toh, jika ada, khilafah akan mengayomi seluruh umat manusia oleh rahmatan lil ‘alamin. Jika belum terlaksana, sampai hari ini pun kita melihat bukan khilafah, tetapi umat Muslim. Di pusat khilafah di Arab sana, Arab tidak sama dengan Saudi. Saudi tidak sama dengan Quraisy. Quraisy tidak sama dengan Badawy. Maka, apa lagi yang kita takutkan?

Cak Nun menuliskan pendapat dan keresahannya mengenai kejadian-kejadian masa kini dalam buku terbarunya, Pemimpin yang “Tuhan”. Bukunya bisa kamu dapatkan di sini.

 

Sumber gambar: http://www.nu.or.id.

Pustaka
Cak Nun

Keep in Touch

© Bentang Pustaka 2018

Home   Artikel   Buku