Pemilu pada hakikatnya adalah suatu cara untuk mencari dan menetapkan pemimpin yang dikehendaki oleh masyarakat. Namun tidak bisa kita mungkiri, Pemilu juga berpotensi melahirkan dikotomisasi di dalam tubuh masyarakat luas. Perhatian masyarakat menjadi terbelah, mereka tidak lagi fokus terhadap kewajibannya dan pada pekerjaannya di kantor atau ladang. Mereka menjadi fokus membicarakan siapa yang akan mereka pilih, dan kenapa tidak memilih yang lain. Hal ini berlangsung detik demi detik, hari demi hari. Tidak peduli dalam kehidupan nyata atau maya.

Setiap harinya, mereka mengagung-agungkan pemimpin yang menurut mereka benar dan cocok memimpin, sedangkan yang lain tidak. Semua aspek pendukung dipakai untuk menjadi instrumen pembenaran terhadap pendapatnya yang sebenarnya tidak memiliki fondasi yang kuat. Terus beronani dengan wacana-wacana yang dihadirkan oleh para pemimpin-pemimpinnya.

Cak Nun mengatakan dalam tulisannya yang berjudul “Pemimpin yang ‘Tuhan’” bahwa manusia yang paling sial adalah orang yang tak seorang pun berani menyalahkannya. Mengapa? Karena manusia dengan perilaku seperti ini bak mobil yang tidak mempunyai rem. Memang mobil itu melesat jauh, tapi tidak terkontrol lagi.

Begitu pula dengan pemimpin. Pemimpin yang paling berbahaya bagi rakyatnya adalah pemimpin yang semua orang tidak mengemukakan kebenaran kepadanya, baik karena takut, kepentingan untuk menjilat, maupun karena kemunafikan. Pemimpin seperti inilah yang akan mudah dan menginginkan untuk dijilat pantatnya oleh para pemujanya. Jelek di depan mata terlihat seolah-olah begitu baik dan indah.

Jika itu terjadi pada pemimpin, pemimpin tersebut bisa dipanggil sebagai “pemimpin yang Tuhan”. Karena dia begitu maha benar dan seolah-olah tidak pernah salah di mata masyarakatnya. Dia selalu merasa apa yang ia lakukan kepada rakyatnya adalah tindakan terbaik yang pernah ia lakukan. Maka, pemimpin yang Tuhan ini merasa bahwa ia perlu dipuji dan disembah. Setiap kesalahan yang ia lakukan harus dibela. Setiap kebodohan yang ia lakukan harus bisa di-cover sedemikian rupa. Survei elektabilitas menjadi tameng bahwa ia masih dipercaya rakyat.

Lalu, apa yang terjadi? Seperti halnya dalam dunia ada hitam dan putih, yin dan yang, pemimpin yang Tuhan pun memiliki musuh. Tidak lain tidak bukan adalah pihak lain yang selalu melawan arus untuk terus menyuarakan kebenaran. Bagi sekelompok orang ini, pemimpin yang Tuhan adalah pemimpin yang setan. Karena ia telah menyebabkan polaritas perubahan politik yang begitu dinamis terus-menerus merasuk ke dalam bidang lain seperti budaya, pengetahuan, psikologi, dan seterusnya. Pemimpin yang Tuhan bertanggung jawab atas hijrahnya rasa kemanusiaan masyarakat menjadi malaikat yang tidak mungkin salah dan setan tidak mungkin benar.

Akan tetapi, pemimpin yang Tuhan mempunyai beberapa kemungkinan. Mungkin ia memang betul-betul banyak jumlah amal baiknya, selalu sedekah, dan mulia sikap sosialnya sebelum menjadi pemimpin sehingga Tuhan memang menyamarkan keburukannya dan menyembunyikan aibnya.

Akan tetapi, apabila yang terjadi hingga masyarakat tidak bisa lagi melihat jelas mana yang objektif dan mana yang subjektif, mana hitam mana putih, mana benar mana salah sehingga semuanya terlihat samar-samar, Cak Nun menyebut ini merupakan frekuensi Dajjal. Api dikenal sebagai air, air digunakan seperti api. Neraka dipromosikan sebagai surga, sedangkan surga yang betul menunduk malu tak mau muncul.

Jika yang terjadi sudah seperti demikian, maka treatment dari Tuhan bukan lagi ujian, bukan peringatan, dan bukan pula hukuman, melainkan azab. Kalau ujian pasti naik kelas. Kalau peringatan artinya penyelamatan. Jika hukuman berarti pembersihan. Namun, azab tidak sama dengan hukuman. Azab bermuara kepada kesengsaraan. Dalam semua sendi kehidupan akan sengsara dan akrab dengan penderitaan. Dan, azab bermula dari jiwa pemimpin yang merasa menjadi Tuhan atau justru menterinya juga merasa Tuhan. Atau, justru staf ahlinya juga punya jiwa Tuhan. Atau, sopir dari staf ahli itu juga memiliki mental menjadi Tuhan. Anaknya juga terkena imbasnya, lalu menular kepada teman-temannya, hingga kepada generasi yang terus-menerus menjadi manusia yang maha benar.

Baca tulisan Cak Nun yang bisa membuat kita merenung kembali dalam buku terbarunya yang berjudul Pemimpin yang “Tuhan”. Bukunya bisa kamu dapatkan dengan mudah di sini.

 

Sumber gambar: https://www.indiatoday.in.

Pustaka
Cak Nun

Keep in Touch

© Bentang Pustaka 2018

Home   Artikel   Buku