Ada banyak jenis puasa. Dalam rukun Islam, puasa khususnya saat bulan Ramadan hukumnya adalah wajib. Mengapa sampai diwajibkan? Lalu, apakah puasa hanya sekadar menahan lapar, haus, dan hasrat seksual? Dalam perspektif Cak Nun, konteks puasa jauh lebih luas daripada itu. Cak Nun pernah menyampaikan mengenai jenis-jenis manusia berdasarkan rukun Islam. Beliau sendiri mengklasifikasikan dirinya sebagai “manusia puasa”. Baginya, substansi dari puasa adalah menahan diri. Menahan diri dari apa? Dari semua hal yang bersifat duniawi.

Jika kita lihat penampilan Cak Nun dari tahun ke tahun, tidak tampak perubahan pada cara berpakaiannya. Penampilannya juga tidak banyak berubah: rambut gondrong, pakaian bersih, rapi, sederhana, dan sering mengenakan sepatu sandal ke mana saja. Beliau seolah tidak pernah berusaha untuk tampil fashionable, terlebih ketika usianya memasuki angka 60-an seperti sekarang.

Cak Nun juga sudah berpuasa dari segala bentuk jabatan. Saat masa Orde Baru, bisa saja beliau masuk menjadi bagian elite negeri ini. Pada 1982, beliau pernah ditawari menjadi menteri kebudayaan, tetapi Cak Nun menolak. Almarhum Presiden Soeharto konon pernah berkata, bahwa semua perjuangan politik yang telah dilakukan Cak Nun selama Orde Baru terbebas dari kepentingan pribadi. Bisa saja beliau menggunakan nama besar dan wibawanya untuk kepentingan komersial, tetapi Cak Nun tidak melakukannya. Satu-satunya jabatan cukup elite yang pernah diemban Cak Nun adalah sebagai Ketua Bidang Dialog Kebudayaan di Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Namun, kemudian beliau keluar pada 17 Agustus 1991 setelah menyaksikan organisasinya itu tidak berdaya untuk memfasilitasi penyelesaian problem rakyat dalam kasus Waduk Kedungombo, Jawa Tengah.

Pada dunia media, yang notabene telah membesarkan namanya, Cak Nun juga telah berpuasa selama bertahun-tahun. Pasca-Reformasi, Cak Nun memutuskan untuk berpaling dari segala publisitas media, entah itu televisi, koran, majalah, dan sejenisnya. Padahal, saat itu bisa dibilang sebagai masa keemasan kariernya pada dunia jurnalistik. Tidak ada media, penerbit, koran, majalah, redaktur, yang akan menolak tulisan Cak Nun. Namun, pada 22 Mei 1998, beliau menyatakan mundur dan berpuasa dari segala publisitas media hingga saat ini.

Cak Nun lebih memilih berpaling dan berkeliling ke pelosok negeri menemani masyarakat yang kesepian di tepian zaman. Beliau bersilaturahmi dengan rakyat kecil di desa-desa terpencil bersama Kiai Kanjeng dan menjangkau wilayah-wilayah yang terisolasi. Cak Nun memilih memeluk anak-anak muda di desa dan kota yang di mata dunia profesional modern mungkin dianggap “tidak jelas masa depan dunianya”. Cak Nun menemani anak muda yang menganggur, kebingungan, mengalami disorientasi, atau tergilas roda zaman, juga menatap wajah-wajah mereka yang polos dan bening dengan penuh cinta, membesarkan jiwa mereka, membantu mengamankan perasaan mereka, dan menumbuhkan rasa percaya diri mereka.

Najwa Shihab telah menanti dan memohon selama sembilan tahun supaya Cak Nun menjadi tamu di acara Mata Najwa. Pun Karni Ilyas yang sudah lama melamarnya untuk hadir menjadi narasumber di Indonesia Lawyer Club. Namun, Cak Nun masih terus berpuasa. Beliau belum mau “berbuka puasa”, bahkan belum menunjukkan tanda-tanda akan “berbuka puasa”.

Kembali ke menahan atau mengendalikan diri sebagai substansi berpuasa. Kenapa puasa sampai diwajibkan? Karena sejatinya manusia tidak suka puasa. Manusia tidak suka menahan lapar dan dahaga. Kalau manusia menyukai, tidak mungkin hal itu diwajibkan. Ketika seseorang telah merasakan nikmatnya puasa Ramadan, dalam perjalanan spiritualnya, ia harus menemukan “jenis-jenis puasa lain”. Maksudnya, laku pengendalian diri yang lebih tinggi dan belum dia sukai agar pribadinya terus berkembang. Cak Nun pernah mengatakan, jika seseorang ingin menjadi pendekar dalam hidup, berlatihlah mengerjakan hal-hal yang tidak disukai, dan berlatihlah meninggalkan hal-hal yang disukai.

Pesan Cak Nun dalam suatu pertemuan sepertinya sangat cocok untuk dijadikan penutup dalam tulisan ini. Beliau pernah berpesan, “Tertariklah untuk (mampu) menahan diri. Kelakuan terbaik dalam diri manusia adalah menahan diri. Bukan kebebasan yang diutamakan, melainkan mengerti batas, paham batasan diri. Di situlah nilai kesehatan hidup. Jika mau selamat, tentukan batasmu. Adanya manusia karena ada batas. Belajarlah dari gigi yang punya batas untuk memuai. Jika tidak, struktur gigi akan kehilangan fungsi serta estetikanya,” pesan Cak Nun seperti yang ditulis oleh Ade Hashman dalam bukunya yang berjudul Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib.

Ketahui lebih banyak mengenai Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib, karya terbaru dr. Ade Hashman. Ikuti Special Order buku Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib di http://bit.ly/CKMEAN.


Kontributor: Widi Hermawan

Sumber gambar: Liputan6

Pustaka
Cak Nun

Keep in Touch

© Bentang Pustaka 2018

Home   Artikel   Buku