Setiap orang punya caranya masing-masing dalam menjalani pola hidup yang sehat, begitu juga dengan Emha Ainun Nadjib. Seperti apa pola hidup sehat Emha Ainun Nadjib? Apakah ada makanan dan minuman khusus yang beliau konsumsi setiap hari? Apakah ada obat-obatan atau ramuan herbal khusus yang dikonsumsi? Atau Emha Ainun Nadjib, yang akrab disapa Cak Nun itu rutin melakukan olahraga tertentu dalam kurun waktu tertentu juga?

Emha Ainun Nadjib berpandangan bahwa kesehatan bermula dari pikiran. Hal ini kontradiktif dengan adigum yang populer dalam dunia kesehatan. Dalam dunia kesehatan, kita kerap mendengar pepatah “Mens sana in corpore sano”, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Adigum ini lahir karena pondasi ilmu kedokteran Barat lahir dari paradigma Cartesian, yang memiliki sifat materialistis dan positivistik. Peradaban Barat yang kini kebetulan menjadi landasan epistemologi ilmu kedokteran modern adalah peradaban materi, yang tidak percaya dengan keabadian roh atau kehidupan pasca kematian.

Dokter Ade Hashman dalam buku terbarunya yang berjudul Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib, mengungkapkan dunia kedokteran Barat selalu mengabaikan sisi spiritualisme dan menonjolkan sisi materialisme. Jiwa hanya dianggap sebagai hantu yang mendompleng mesin biologis. Bahasan tentang tubuh manusia hanya fokus pada raga yang materalistis sehingga perawatannya juga selalu menjurus pada hal-hal yang serba-materialistis.

Lalu, apa yang dimaksud Emha Ainun Nadjib dengan kesehatan bermula dari pikiran? Emha memiliki pandangan bahwa sumber utama kesehatan manusia adalah pikiran, bukan hati. Kuncinya adalah dengan mengerti batasnya.

Maksudnya, bila seseorang ingin sehat, ia harus mengenal batas, paham soal ketentuan, takaran, serta dosis yang tepat bagi hidupnya. Seseorang harus bisa memanajemen akal, salah satunya melalui kejujuran dalam berpikir. Menurut Emha, kejujuran dalam berpikir akan memengaruhi irama kesehatan tubuh. Jika sejak dari pusat komando sudah tidak jujur, akan terjadi dismanajemen dalam delegasi perintah-perintahnya. Kenapa salah satu kunci sehat adalah dengan kejujuran dalam berpikir? Alasannya, sesungguhnya tugas terberat yang dibebankan kepada otak adalah berbohong. Manusia hanya menggunakan empat bagian otaknya saat berkata jujur, tetapi saat berbohong manusia harus menggunakan 9 bagian otaknya.

Organ tubuh manusia ibarat pabrik kimiawi yang memproduksi berbagai hormon, neurotransmiter, dan enzim, tidak terkecuali otak. Otak manusia di bagian hipotalamus dan hipofisis juga mewujud pabrik kimiawi yang menyintesis berbagai hormon dan neurotransmiter. Selain melalui proses sintesis yang berkaitan dengan reaksi biokimiawi, produksi sejumlah hormon di otak juga ada yang diinisiasi oleh aktivitas berpikir dan perasaan hati. Segala yang masuk ke otak, baik secara materiel maupun nilai akan membentuk dan memengaruhi cara otak mengeluarkan bahan kimia tertentu. Dengan kata lain, apa pun yang dipikirkan seseorang memiliki konsekuensi biokimiawi khusus. Sederhananya, hormon dapat dikatakan sebagai reward atas kerja pikiran terhadap tubuh.

Apabila pikiran dan perasaan seseorang dikuasai dengan hal-hal negatif seperti kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, kemarahan, rasa penolakan, frustrasi, kebencian, kedengkian, kegelisahan, rasa tertekan, atau stres berlebihan, tubuhnya akan dibanjiri hormon seperti kristisol, adrenalin, dan noradrenalin. Di tengah kondisi tenggelam dalam luapan adrenalin dan noradrenalin, sistem saraf simpatik akan dominan mengambil peran. Hormon noradrenalin akan dilepaskan otak ketika seseorang mendapatkan reaksi yang menyakitkan, sedangkan hormon adrenalin dikeluarkan dari kelenjar anak ginjal ketika berhadapan dengan rangsangan yang menekan. Apabila stres terlalu tinggi, noradrenalin terlalu banyak dikeluarkan, otak akan menjadi terlalu tegang sehingga mengakibatkan memori tidak bekerja dengan baik. Hormon-hormon stres yang dikeluarkan secara berlebihan dalam jangka waktu lama akan menghancurkan konstitusi sistem tubuh.

Oleh karena itu, sebisa mungkin kita harus bisa berpikir positif. Emha bahkan mengatakan dalam suatu musibah sekalipun selalu ada yang bisa disyukuri. Dengan berpikir positif kita akan meminimalisasi otak untuk memproduksi hormon-hormon beracun yang merusak tubuh.

Pikiran dan badan itu seperti jiwa dan raga, keduanya berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan secara absolut. Kedua dimensi ini akan selalu berinteraksi dan saling memengaruhi. Pikiran dan badan tidak pernah putus berdialog. Apa-apa yang kita pikirkan akan berpengaruh terhadap sel-sel di dalam tubuh. Sementara itu, apa yang kita konsumsi secara materi juga akan memengaruhi pikiran.

Ketahui lebih banyak mengenai Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib karya terbaru dr. Ade Hashman. Dapatkan info tentang buku tersebut di sini.


Kontributor: Widi Hermawan

Sumber gambar: Tribunnews

Pustaka
Cak Nun

Keep in Touch

© Bentang Pustaka 2018

Home   Artikel   Buku