Lingkungan memiliki pengaruh yang begitu signifikan terhadap kesehatan. Lingkungan ini mencakup semua hal, dari yang bersifat material maupun imateriel. Mulai dari kualitas air, udara, makanan, sampai hal-hal abstrak seperti tata nilai atau informasi yang dikonsumsi. Perubahan lingkungan ekstrem dan matra kehidupan sosial yang bergeser akan sangat mudah mengubah tata kehidupan sekaligus menggeser platform dunia kesehatan.

Misalnya air bersih yang dulunya merupakan anugerah Ilahi yang gratis, kini mulai dikomersialisasikan, bahkan harganya semakin tinggi. Orang-orang kota mulai enggan minum air tanah karena takut telah tercemar berbagai zat beracun. Udara khususnya di kawasan industri dan perkotaan juga sudah mulai tercemar banyak zat polutan. Bukan tidak mungkin beberapa tahun lagi kita juga harus membeli oksigen botolan seperti kita membeli minuman mineral kemasan saat ini. Belum jika kita melihat apa saja makanan yang kita konsumsi, entah berapa banyak elemen kimia artifisial dalam bahan makanan tersebut mulai dari pengawet, pewarna, esen aroma, dan pemanis sintetis.

Mengenai informasi yang diekspos di media massa, isinya juga penuh dengan konten berbahaya untuk kesehatan jiwa. Media sosial dipenuhi dengan berita hoaks, nyinyiran, ujaran kebencian, gosip murahan, serta fitnah keji. Alih-alih menjadi media pertemanan, media sosial malah menjadi ring perselisihan dan panggung perdebatan yang tanpa ujung dan tanpa makna. Dan, itu semua adalah hal-hal yang berbahaya untuk kesehatan dan sangat berpotensi merusak otak kita.

Sangat disayangkan bagaimana perkembangan teknologi yang mampu meretas ruang dan waktu justru tidak digunakan untuk mempererat silaturahmi, malah menyuburkan kesalahpahaman. Tidak heran jika Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun memilih meninggalkan atau berpuasa dari seluruh media massa dalam negeri sejak 20 tahun silam.

Dokter Ade Hashman dalam bukunya yang berjudul Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib mengatakan bahwa seluruh hidup kita, empat penjuru mata angin, serasa dikepung oleh “kompleksitas peracunan dan kekacauan”. Seolah tidak ada jalan keluar atas segala problem yang saat ini terjadi. Seolah dibutuhkan tokoh revolusioner spiritual yang radikal selevel “Imam Mahdi”. Cak Nun juga pernah mengatakan bahwa kondisi yang kita alami saat ini sudah mustahil dibenahi dengan manajemen manusia.

“Saya tidak tega kepada umat jika harus membicarakan apa yang saya ketahui soal negeri ini,” kata Cak Nun. Lalu, bagaimana orang seidealis Cak Nun bisa melepaskan kejengkelan, kekesalan, serta kemarahan akibat melihat rahasia dapur para penyelenggara negara? Kami rasa jawabannya adalah Maiyah.

Maiyah dapat menjadi tempat menyegarkan diri dari segala kejengkelan, Maiyah seolah telah menciptakan suasana penuh keberkahan di lingkungannya. Cak Nun sendiri pernah mengatakan, “Saya semakin sehat seusai acara Maiyah.”

Lewat Maiyah, Cak Nun membangun filter budaya peradaban sehingga punya imunitas dan daya tangkal terhadap infeksi globalisasi yang membawa limbah materialisme, hedonisme, kapitalisme, sekularisme, bahkan ateisme. Di lain kesempatan, Cak Nun juga pernah berkata pada jamaah Maiyah, “Anda semua akan bertambah sehat selama mengikuti Maiyah. Kesehatan tidak terutama terletak pada makanan. Kesehatan sangat bergantung pada kejujuran dan kemurnian hati Anda. Anda duduk di sini berjam-jam. Anda membawa kejujuran. Insya Allah Anda lebih sehat sekarang,” katanya.

Jika ditinjau dari perspektif medis konservatif, hal ini tentu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin orang-orang begadang sampai dini hari, duduk lesehan di lapangan terbuka dan diterpa angin malam, tidak jarang harus hujan-hujanan, tetapi mereka malah sehat. Tentu perlu ada penelitian lebih mendalam soal ini.

Dokter Ade Hashman kembali mengungkapkan bahwa kontribusi forum Maiyah terhadap kesehatan tidak bersifat jasadi langsung pada fisik, tetapi pada dimensi yang lebih lembut, yaitu dimensi intelektual, psikologis, dan spiritual yang tentu akan berdampak secara fisik. Peserta Maiyah diajak untuk mengonsumsi sesuatu yang abstrak, tetapi dibutuhkan untuk kelengkapan nilai kesehatan seperti internalisasi nilai-nilai positif, budaya kebersamaan, kegembiraan, pola pikir seimbang untuk menyikapi hidup yang semakin mengkhawatirkan, bekal solusi terhadap tekanan hidup, dan nilai-nilai yang menenteramkan. Dalam konteks demikian, Maiyah tentu memiliki kontribusi terhadap kondisi kesehatan jamaahnya.

Suasana penuh kebersamaan di Maiyah mampu menghimpun berbagai energi, mulai dari energi batin, kebudayaan, pendidikan, serta energi-energi yang membersamai Allah dan Rasulullah. Tidak berlebihan jika Maiyah disebut-sebut sebagai oase kesehatan di tengah-tengah lingkungan yang penuh racun dan penyakit.

Ketahui lebih banyak mengenai Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib karya terbaru dr. Ade Hashman. Dapatkan info tentang buku tersebut di sini.


Kontributor: Widi Hermawan

Sumber gambar: caknun.com

Pustaka
Cak Nun

Keep in Touch

© Bentang Pustaka 2018

Home   Artikel   Buku