Emha Ainun Nadjb atau akrab disapa Cak Nun memiliki cara tersendiri untuk tetap sehat. Di tengah jadwal yang begitu padat dan waktu istirahat yang begitu minim, seperti Cak Nun, diperlukan manajemen kesehatan yang ekstra supaya tetap sehat. Lantas, apa sebenarnya rahasia sehat Cak Nun?

Dalam buku Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib karya Ade Hashman, setidaknya ada sepuluh kunci kesehatan Cak Nun. Apa saja kunci kesehatan tersebut?

Pertama, kesehatan hidup merupakan gabungan antara kesehatan jiwa, tubuh, dan kesehatan hubungan antara manusia dan Tuhan. Gabungan tersebut bersifat komprehensif, saling terkait dan mendukung satu sama lain. Tuhan menciptakan manusia, rohani serta jasadnya, dan menciptakan ketetapan mengenai sistem hidup yang sehat. Oleh karena itu, urusan sehat atau tidak, ada di tangan Allah Swt.

Kedua, karena prinsip dasar di atas, kesehatan tubuh tidak bisa berdiri sendiri. Ia saling bergantung dengan kesehatan jiwa atau rohani, serta dengan kesehatan hubungan manusia dengan Tuhan dari hati ke hati.

Ketiga, Tuhan memiliki hak mutlak atas sakit dan sehatnya setiap makhluk, juga atas apa saja yang diciptakan-Nya. Tuhan tidak menciptakan sehat atau sakit seseorang berdasarkan konsep kesehatan menurut manusia. Sehat dan sakit menurut Tuhan berbeda, sangat berbeda, bahkan bisa berkebalikan dibandingkan dengan sehat atau sakit menurut konsep manusia. Kesehatan di mata Tuhan selaras dengan kepatuhan manusia terhadap kehendak-Nya. Oleh karena itu, pemahaman manusia tentang kesehatan bisa berkebalikan dari konsep kesehatan menurut Tuhan.

Keempat, Tuhan bisa melimpahkan penyakit kepada manusia justru demi kesehatan jiiwanya. Bisa juga Tuhan melimpahkan penyakit sebagai ujian, pendidikan, peringatan, atau hukuman. Begitu juga ketika Tuhan memberikan kesehatan. Bergantung apakah kita bisa menemukan alasan di balik semua itu atau tidak. Rasa sakit bisa membuat manusia jadi rendah hati dan menyadari kebergantungannya kepada Tuhan. Sebaliknya, kesehatan justru bisa menjadi azab yang membuat manusia sombong dan tergelincir dalam hidup.

Kelima, manusia wajib berikhtiar memelihara kesehatan, tapi pada hakikatnya Tuhanlah yang mengambil keputusan. Bisa saja Tuhan justru mengambil nyawa orang yang selalu menjaga kesehatannya terlebih dulu daripada orang yang berlaku seenaknya terhadap kesehatan hidupnya. Itu semua hak Tuhan, dan tidak ada gunanya kita menyalahkan Tuhan. Setiap kondisi sehat atau sakit itu baru bisa dinilai kesejatiannya kelak, di alam yang menggunakan rumus dunia-akhirat sekaligus. Kita hanya mengenal sangat kecil urusan dunia, karena itu kita tetap memerlukan iman, takwa, dan tawakal. Gampangnya, sehat ya terserah, sakit ya terserah. Asalkan tetap berada dalam iman, takwa, dan tawakal.

Keenam, manusia meneliti tentang kesehatan dan penyakit, lalu berikhtiar mengobati, tetapi tidak mampu jadi penyembuh. Tuhan bisa berlaku sesuai rumus kesehatan manusia, misalnya menyembuhkan orang sakit yang telah diobati dokter. Tapi Tuhan juga berhak melakukan hal yang lain.

Ketujuh, jika seorang dokter, dukun, tabib, atau siapa pun berhasil menyembuhkan penyakit seseorang dengan obat atau ramuan yang dikenal baku dan diakui ilmu manusia, sebenarnya bukan ilmu atau obat itu pasti benar. Kesimpulan yang lebih tepat, Tuhan mengabulkan kesembuhan melalui apa yang diyakini dan digunakan oleh dokter, tabib, atau dukun. Tuhan juga bisa tidak mengabulkannya, atau justru memberi manusia pengalaman baru, misal seseorang menjadi sembuh tidak berdasarkan ilmu manusia, melainkan ilmu yang sama sekali tidak dikenal manusia.

Kedelapan, ada sebuah kisah menarik yang bisa dijadikan sebuah pelajaran. Kisah antara manusia dan Tuhannya. Seseorang yang dekat dengan Tuhan mengeluh, “Ya Allah, sembuhkanlah sakit perutku.” Tuhan menjawab, “Baiklah, ambil daun itu dan makanlah.” Belum sampai dia memakan daun itu, sakit perutnya sembuh. Kemudian, ketika perutnya sakit lagi, orang itu langsung mengambil daun tadi. Ternyata sakit perutnya tidak sembuh-sembuh, meskipun sudah sekian lembar daun dia makan. Orang itu memprotes, “Ya Allah, ketika aku sakit perut, Engkau memerintahkanku menyembuhkan pakai daun itu. Kenapa kali ini tidak sembuh perutku?” Tuhan menjawab, “Waktu sakit yang pertama, engkau mengeluh dan meminta tolong kepada-Ku. Tetapi, yang kedua, engkau tidak meminta tolong kepada-Ku, melainkan langsung mengambil daun itu. Maka, perutmu tetap sakit karena daun dan yang lain-lainnya tidak bisa menyembuhkan sakit perut dan sakit apa pun. Yang bisa menyembuhkan dan berkehendak menyembuhkan adalah kemauan dan kasih sayang-Ku.”

Kesembilan, karena itu, syarat kesehatan manusia ada dua yang sebaiknya kita pilih. Pertama, memastikan hati kita terus-menerus terfokus kepada Tuhan. Hati kita bertauhid, pikiran kita bertauhid, napas kita bertauhid, langkah kita bertauhid, pekerjaan kita bertauhid, senang dan susah kita bertauhid, kaya dan miskin kita bertauhid. Kedua, berpikir hakiki. Berpikir jujur, positif, dan selaras dengan kemauan Tuhan. Ketidakjujuran rohani, hati, dan pikiran akan mengubah manajemen hidup kita sehingga berpotensi menimbulkan destruksi, dismanajemen, kekacauan, dekonstruksi, atau kerusakan yang pada ujungnya menimbulkan penyakit.

Kesepuluh, kunci yang terakhir adalah dengan menghormati dan mematuhi kehendak Tuhan. Kemudian, kita tetap perlu membuka diri pada setiap kemungkinan dalam ilmu kesehatan menurut manusia. Tidak ada pembedaan ilmu kesehatan modern atau tradisional, dokter, dukun, maupun tabib. Ukuran sejati hanyalah kejujuran ilmu kesehatan di tangan siapa pun serta kesadaran akan kebergantungan kepada Allah. Marilah kita menghindari amarah-Nya dan mengupayakan dekat dengan kasih sayang-Nya.

Ketahui lebih banyak mengenai Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib, karya terbaru dr. Ade Hashman. Dapatkan info tentang buku tersebut, di sini.


Kontributor: Widi Hermawan

Sumber gambar: caknun.com

Pustaka
Cak Nun

Keep in Touch

© Bentang Pustaka 2018

Home   Artikel   Buku